Teks

" Selamat bergabung di BLOG KABAR CHOW

Mengenai Saya

Foto saya
Meliau, Kalimantan Barat, Indonesia
Carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya, dan semuanya akan ditambah padamu.

Rabu, 15 April 2009

Kerajaan MELIAU

MELIAU


Menurut suku ini sendiri, bahwa keturunan mereka benar berasa dari Jawa. Mereka adalah orang kampung / pedesaan dari Jawa pengikut Putera Brawijaya dalam perlawatannya ke Sukadana.

Berhubung pada zaman kerajaan Matan (sebenarnya kerajaan Tanjungpura) sering terlibat dalam kanca peperangan dan gangguan bajak laut, terpaksa mereka meninggalkan Sukadana, Mereka lari menyusuri sungai masuk ke pedalaman hingga menyeberangi sungai Kapuas. Mereka merasa aman menempati daerah yang disebut MELIAU. Disiniah mereka hidup berkembang biak dengan mengerjakan tani dan memburu. Dengan tiada mereka mengetahui, bahwa daerah ini telah banyak juga pendatang mendiaminya.

Ada yang datang dari Daya Beaju, suku ini bersifat ganas-ganas, berbadan kuat dan banyak rombongannya.

Ada juga yang datangnya dari Daya Ambalau, hulu kapuas.

Ada juga yang datangnya dari Daya Bukit, daerah Landak.

Jaman ini masih senang orang mengayau, sehingga orang-orang sering berpindah-pindah tempat. Akhirnya mereka berunding dan mengutus kepala kelompoknya yang bernama RANGGA MACAN untuk menghadap raja Tanjungpura. Dari Sukadana dibawanya gumpalan tanah dari tungku dapur menanak nasi Raja, sebagai jimat untuk mengamankan daerahnya.

Hingga kini tanah tersebut masih tersimpan di MERANGGAU kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau.

Kerajaan Meliau tidak meninggalkan catatan sejarah yang nyata bagi keturunannya. Ceritra rakyatpun belum dapat diketemukan. Mungkin hal ini tidak ada orang tua yang mengetahuinya, karena waktu penjajahan Belanda yang begitu lama. Sehingga orang tua yang mengetahuinya tak ada sama sekali.

Hanya yang dapat diingat dan punya catatan, pendudukan dan pemerintahaan Belanda. Meliau terkenal dengan pemerintahaan Gauvernement Gebied (Belanda).

Tentulah banyak orang akan bertanya kenapa Meliau menjadi demikian ?

Pada waktu pemerintahaan PANGERAN ADIPATI MANGKU NEGARA (1866) di Meliau, ia bermohon berhenti. Ia berhenti dengan belum ada penggantinya. Putera mahkota masih terlalu muda. Belum sanggup memegang pimpinan. Putera mahkota RADEN MUSTAPA pun dalam usia yang terlalu muda itu telah merantau keluar derah. Tak tahu pula kemana tempat tinggal perantauannya. Tapi karena pemerintah Belanda yang banyak menaklukan daerah di Indonesia, maka muda saja mencarinya dengan menggunakan segala wakil-wakil Belanda di mana-mana tempat. Akhirnya putera mahkota diketemukan di Minahasa North Celebes (Sulawesi Utara). Beliau merantau sambil berdagang. Disana beliau telah memeluk agama Kristen.
Belanda membujuknya dan membawanya kembali ke Meliau, setibanya di Meliau ia kembali ke agama Islam (1869).

Tahun yang sama beliau dinobatkan raja dengan gelar RATU ANUM PAKU NEGARA. Keraton dan sebuah pendopo dibangunnya dari kayu dengan model yang indah waktu itu. Kedua bangunan ini telah didirikannya dikota MELIAU. Ia wafat pada tahun 1885. Putera tunggalnya, ABDUL SALAM padawaktu itu sedang menjabat jaksa di Betawi / Jakarta. Beliau diundang ke Meliau untuk menggantikan martabat ayahnya. Bergelar PANGERAN RATU MUDA PAKU NEGARA alias PANGERAN MENADO. Menurut kisahnya, ia telah kecewa atau kurang puas dengan penghasilannya. Terlalu kecil jika dibandingkan dengan pendapatannya sebagai jaksa di Betawi.
Pada tahun 1889 tanggal 2 Agustus, atas kemauannya sendiri telah meninggalkan takhta kerajaan. Kemauannya ini telah dikabulkan dan kembalilah ia ke Betawi untuk meneruskan jabatannya.

Tahun 1897, beliau wafat dengan tidak meninggalkan turunan. Karena vacuum kerajaan Meliau, maka kerajaan Tayan merangkap memegang pimpinan kedua kerajaan, Tayan dan Meliau.

Dengan beslit no. 23 tanggal 15 januari 1890, Gusti Mohamad Ali telah memegang / menggabungkan kedua kerajaan dibawah pemerintahaannya. Pelaksana beslit ini mulai berlaku pada tanggal 26 Pebuari 1890.

Pada tahun 1905, mangkatlah beliau dan telah meninggalkan lima putera dan tujuh orang puteri.

Putera mahkota yang tertua, GUSTI TAMJID PANGERAN RATU naik takhta dengan gelar PANEMBAHAN ANUM PAKU NEGARA.

Pada masa pemerintahan Panembahan ANUM PAKU NEGARA inilah kerajaan Meliau dijadikan Belanda suatu daerah pemerintahannya dengan status GAUVERNEMENT GEBIED. Itulah sebabnya sejarah kerajaan Meliau tidak dapat memberikan satu data-data penonjolan bagi generasi kemudian.


Sumber:

SEJARAH – HUKUM ADAT
DAN ADAT ISTIADAT
KALIMANTAN – BARAT

Oleh : J.U. Lontaan

4 komentar:

  1. Dear Sir;

    Are there still any members of the raja family of Meliau in Meliau?

    Thank you.

    Salam hormat:
    DP Tick gRMK/Pusaka
    pusaka.tick@tiscali.nl
    http://kerajaan-indonesia.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Yaaa saya orang meliau dan tahu wlau sedikit cerita• ♈αng Ķΰ tahu kami pernah dijajah belanda juga jepang begitu kata nenek dan kakaekku telah tiada

    BalasHapus
  3. or facebook Donald Tick or pusaka.tick@kpnmail.nl

    BalasHapus
  4. Kakek ku pernah bercerita bahwa ibu nya adalah keponakan dari Raden paku, nenek buyut ku tersebut bernama inoi dan menikah dengan seorang yang bernama Kayan atau Kahayan. Kemudian keduanya hijrah ke Katingan.. saya masih berusaha mencari info apakah buyutku masih ada sangkut pautnya dengan Kerajaan meliau atau Kerajaan tayan... Kontak email... jtalalus@gmail.com

    BalasHapus